Tuesday, July 11, 2017

JANGANLAH ENGKAU MENYERUPAI ORANG KAFIR


Kaum disini berifat umum, iaitu : barang siapa meniru-niru orang kafir maka ia termasuk dari mereka. Barang siapa yang meniru -niru pelaku maksiat, maka dia termasuk dari mereka. Barang siapa meniru-niru gaya ahlul bid'ah, maka dia termasuk dari mereka.


Jika dalam perkara yang zahir contohnya cara berpakaian, gaya hidup saja dilarang oleh Rasulullah SAW, maka bagaimana lagi kalau kita meniru-niru peribadatan mereka.

Kenapa? Kerana kalau kita meniru-niru gaya mereka, maka kita akan mewariskan kecintaan dalam batin.

Kalau sama zahirnya diantara Si A dan Si B; gayanya sama; cara berpakaiannya sama; modelnya sama; maka akan timbul kecintaan diantara mereka berdua. Rasulullah SAW tidak menginginkan hal ini. Seorang mukmin harus bara' (berlepas diri) terhadap orang kafir; tidak boleh ada kecintaan terhadap orang-orang kafir dalam masalah agama.

Kenapa? Kerana mereka kufur kepada Allah SWT.

Contohnya, Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk mewarnai uban mereka yang berwarna putih. Dalam hadis Rasulullah SAW mengatakan :
"Ubahlah warna putih uban tersebut (diwarnai selain warna hitam) dan jangan kalian meniru-niru orang Yahudi." (HR An Nasai no. 4986, Tirmidzi no. 1674)

Contohnya lagi, Rasulullah SAW mengatakan :
"Cukur kumis dan panjangkan Janggut dan selisihilah orang-orang Majusi." (HR Muslim no 260)


Kenapa? Kerana orang Majusi tidak berjanggut, sampai sekarang orang Majusi tidak berjanggut.

Di zaman Rasulullah SAW, orang-orang Yahudi dan orang Musyrikin berjanggut tetapi Rasulullah SAW melirik kepada satu jenis orang kafir iaitu Majusi (penyembah matahari), dimana mereka tidak berjanggut. Dan Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyisihi Majusi. Oleh kerananya, ikhwat dan akhwat yang dirahmati AllahSWT, seorang Muslim hendaknya berusaha menjauhkan dirinya dari meniru-niru orang kafir dalam masalah pakaian, pola hidup, gaya apalagi dalam masalah beribadatan.

Ada perkara yang perlu kita ingatkan. kalau ternyata orang kafir melakukan kegiatan yang bermanfaat maka tidak mengapa ditiru. Yang dilarang oleh Nabi SAW adalah peniru-peniru perkara yang tidak ada manfaatnya iaitu hanya sekadar model atau gaya.

Dan contoh Rasulullah SAW dahulu tatkala menulis surat kepada pembesar-pembesar orang kafir, Bagina SW diberi usulan oleh sebahagian sahabat agar memberi cop mohor di akhir surat. Kenapa? Kerana kebiasaan orang-orang kafir, mereka tidak menganggap surat itu rasmi kecuali ada cop mohornya. Akhirnya Rasulullah SAW meniru mereka kerana hal ini ada manfaatnya.

Contohnya adalah demikian juga tatkala terjadi perang Khandaq, meskipun riwayat ini diperbincangkan oleh para ulama, namun disebutkan dalam buku sejarah bahawa sahabat (Salman Al Farisi) memberikan idea kepada Rasulullah SAW agar membuat khandaq (parit) ketika dalam keadaan tersepit. Ini dilakukan oleh orang-orang Majusi tatkala dalam keadaan terdesak dan Rasulullah SAW meniru cara tersebut. Ini menunjukkan meniru yang dilakukan orang kafir selama bermanfaat tidak mengapa, tidak termasuk dalam tasyabbuh.

Apa yang lebih menyedihkan lagi, kita dapati sebahagian kaum muslimin meniru-niru orang kafir dalam beribadah. Contohnya meniru-niru orang Nasrani yang beribadah menggunakan muzik dan nyanyian, padahal ulama seluruhnya (ijma') mengharamkan alat-alat muzik. Ini sebahagian kecil yang mampu saya sampaikan mengenai pengajaran dari hadis ini.

Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari hal-hal yang menjerumuskan kita dalam bertasyabbuh kepada orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT. Kita berusaha bertasyabbuh dengan orang-orang soleh, agar kita dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat kelak.

Sunday, July 2, 2017

SURAH AL-KAAFIRUUN



Setelah Hamzah dan Umar masuk Islam, kaum musyrikin Mekah semakin khuatir terhadap dakwah Rasulullah SAW. Mereka telah melakukan banyak cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah mulai dari harta dan kekuasaan, hingga berencana membunuh Rasulullah. Dan ketika kaum musyrikin Quraisy gagal dalam perundingan hasutan, pujukan, ancaman sampai kegagalan yang dialami oleh Abu Jahal yang hendak membunuh Rasulullah, mereka kemudian mengajak Rasulullah untuk mengambil jalan tengah.

Ibnu Ishaq meriwayatkan, dia berkata, "Pada satu ketika datang orang-orang Quraisy kepada Rasulullah SAW yang saat itu sedang tawaf disekitar Ka'bah diantara mereka adalah Al-Aswwad bin Al-Muthalib bin Asad bin Abdul Uzza, Al-Walid bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Al-Ash bin Wa'il As -Sahmi, mereka semua termasuk sesepuh dari kaumnya mereka berkata. " Wahai Muhammad, bagaimana kalau kita bekerjasama dalam ibadah kita. Kami akan menyembah apa yang engkau sembah, tapi engkau harus menyembah apa yang kami sembah. Jika yang engkau sembah lebih baik, kami akan menyembah Tuhanmu, tetapi jika yang kami sembah ternyata lebih baik maka engkau harus menyembah tuhan kami." 

Lalu turunlah firman Allah SWT : "Katakanlah:'Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk agamamu, dan untukkulah, agamaku."  
(QS Al-Kaafiruun: 1:6)

Abdul bin Humaid dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, orang-orang Quraisy itu berkata,"Jika engkau (Muhammad) mahu menerima tuhan kami maka kami akan menyembah Tuhanmu." lalu Allah menurunkan Surah Al-Kaafiruun tersebut. Riwayat dari Ibnu Jarir mengatakan orang-orang Quraisy itu berkata, "Satu tahun engkau menyembah tuhan kami dan satu tahun kami menyembah Tuhanmu,"

Lalu Allah SWT menurunkan ayat ; " Katakanlah 'Maka apakah kamu menyuruh aku untuk menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?" (QS Az-Zumar :64)

setelah Allah memotong perundingan yang lucu ini dengan ayat-ayat yang begitu tegas, orang-orang Quraisy tidak kehilangan akal dan putus asa begitu sahaja. bahkan mereka menambahkan berbagai ajuan kepada Nabi, seperti yang dinyatakan dalam Al-Quran :
Mereka berkata, "Datangkanlah Al-Quran yang lain dari ini atau gantilah dia.."(QS Yunus:15)
Allah SWT menyangkal perkataan mereka dengan ayat berikut :
"Katakanlah : 'Tidaklah patut bagiku menggantikannya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)." (QS Yunus: 15)

Lalu Allah memperingatkan dengan ayat yang berikut :
dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu Jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuatkan (hati) mu, nescaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat gandasesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. (QS Al-Isra' 73-75)

ASBABUN NUZUL


Turunnya surah Al-Kaafirun dilatar belakangi oleh ajakan kaum musyrikin Quraisy yang tidak mampu untuk membendung dakwah Rasulullah SAW dengan pujukan sehingga dengan cara penyiksaan, namun tetap mengalami kegagalan. Akhirnya timbul gagasan mereka untuk mengajak kompromi dengan Rasulullah SAW.


Diriwayatkan oleh Ath- thabarani dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu 'Abbas bahawa kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi Muhammad SAW dengan menawar harta kekayaan agar beliau menjadi orang yang paling kaya di kota Mekah. Mereka juga menawarkan kepada beliau untuk menikahi wanita mana saja yang beliau kehendaki. Upaya tersebut mereka sampaikan kepada beliau seraya berkata "Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat engkau jangan memaki-maki tuhan-tuhan kami dan menjelek-jelekkannya atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun."

Nabi Muhammad menjawab :"Aku akan menunggu wahyu dari Rabb-ku." Surah ini turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir itu. Dan Rasulullah SAW dengan tegas menolak ajakan mereka dengan berkata kepada mereka,"Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan pun menyatakan bahawa mereka orang-orang kafir Quraisy pun tidak ikhlas akan menyembah Allah sebaimana yang mereka janjikan kepada Rasulullah.

Dan turun pula surah az-Zummar ayat 64. Katakanlah:"Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?" sebagai menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala.

Oleh kerana itu maka jelaslah tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam, namun begitu, jalan yang benar dan jalan yang sesat sangat jelas kerana Allah SWT sudah memberikan dua jalan di dunia ini, jalan kebenaran dan jalan kesesatan. Maka terserahlah kepada manusia memilih jalan yang mana diantara keduanya.

Diriwayat oleh 'Abdurrazaq yang bersumber dari Wahab; dan diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Juraij bahawa kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi, "Bersediakah engkau mengikuti agama kami setahun dan kami juga akan mengikuti agamamu setahun?" Allah lalu menurunkan ayat-ayat dalam surah ini secara keseluruhan."

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan hal senada dari Ibnu Juraij. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Said bin Mina yang berkata, "Wahai Muhammad, mari menyembah Tuhan yang kami sembah dan sebagai balasannya kami juga akan menyembah Tuhan yang engkau sembah. Selanjutnya, kami juga akan mengikutsertakan engkau dalam seluruh urusan kami." Allah SWT lalu menurunkan ayat ini.

PENGAJARAN

1. Penetapan akidah tentang qadha dan qadar terhadap orang-orang kafir dan mukmin.

2. Perlindungan Allah SWT terhadap Rasulullah SAW dan terpeliharanya beliau dari menerima usulan kaum musyrikin yang bathil.

3. Penetapan kewajipan pemisahan antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir dan musyrik.